Langsung ke konten utama

Dari Interaksi Tercipta Kreasi

Dunia anak muda memiliki ceruk pasar yang sangat potensial. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), komposisi jumlah anak muda di setiap provinsi di Indonesia rata-rata di atas 60% dari total populasi. Angka tersebut tentu saja seksi bagi industri sebagai lahan subur yang perlu dieksplorasi. Ditambah dengan tingginya angka konsumsi pada usia muda, maka sempurnalah pasar itu tercipta. Namun perlu diingat, anak muda memiliki logika berpikir sendiri sehingga tidak mudah untuk meluluhkan hati mereka. Dibutuhkan kiat-kiat khusus untuk bisa merebut perhatiannya.
Anak muda memiliki gairah yang berapi-api terhadap sesuatu. Mereka juga gemar mencoba sesuatu yang baru, risih terhadap formalitas dan cenderung untuk melawan kemapanan (rebel). Pola perilaku anak muda yang acak dan beragam tersebut kadang diartikan sebagai hambatan bagi suatu produk untuk menempatkan diri (positioning) dalam dunia mereka. Dari sinilah maka kami mencoba untuk memberikan secuil pemahaman tentang Youth Marketing, bagaimana memasarkan suatu produk kepada anak muda
Pengalaman kami selama ini menunjukkan bahwa memang agak gampang-gampang-susah untuk merebut hati mereka. Namun bukan tidak mungkin menaklukannya. Kunci dari semua itu adalah bagaimana menimbulkan rasa hormat (respect). Pemahaman kami atas respect yang dikehendaki anak muda itu kira-kira seperti ini; “jika anda mau jualan silahkan saja tetapi jangan paksa kami seperti para penawar kartu kredit yang mengintimidasi itu.” Prinsipnya sederhana saja sebenarnya, tolong hargai kebebasan mereka dengan tidak menjejali ajakan (iklan) suatu produk secara vulgar dan terus-menerus.
Akan tetapi, bagaimana menimbulkan respect dari anak muda juga bukan perkara mudah. Butuh strategi yang luwes untuk mendekati mereka. Karena berada pada kondisi psikologis yang labil, sebenarnya perilaku anak muda dapat direkayasa. Pada situasi seperti itu, biasanya mereka cenderung untuk mengikuti apa yang telah dianggap keren oleh lingkungan mereka. Tentu saja, sesuatu yang keren itu tidak hadir secara tiba-tiba namun diciptakan. Proses penciptaan sesuatu yang dianggap keren inilah yang perlu diupayakan dengan serius jika ingin merebut hati mereka. Dalam dunia kreatif proses inilah yang biasa dikenal dengan pencitraan (branding).
Upaya pencitraan demi mencapai respect dari anak muda harus dilakukan secara hati-hati. Sebab jika proses pencitraan gagal bukan tidak mungkin yang timbul malah cemoohan dari mereka. Pencitraan yang berhasil menurut kami adalah bagaimana suatu produk/proyek yang ditujukan untuk anak muda dapat memenuhi gairah mereka tanpa harus menjejali atau mengatur. Biarkan mereka terlibat dan interaksi satu sama lain. Dengan demikian, tafsir atas suatu produk/proyek akan terus menerus didiskusikan sehingga mampu menimbulkan dukungan, kritik atau bahkan berhasil menciptakan kreasi baru. Sebagai contoh, mungkin dapat kami perlihatkan apa yang telah kami lakukan di Bandung dalam proyek Build This City.
Proyek tersebut berawal dari kebutuhan kami sebagai skater akan ruang publik yang dapat digunakan untuk bermain skate. Namun, birokrasi di Bandung sulit untuk mewujudkan aspirasi kami tersebut. Daripada menunggu di fasilitasi oleh pemerintah kota, maka kami berinisiatif untuk menciptakan ruang publik yang dapat digunakan bermain skate (skatable). Proses penciptaan pun kami lakukan tidak secara vulgar, kami hanya merekayasa barang-barang yang telah dikenal oleh publik secara luas. Maka terciptalah tempat sampah di Viaduct atau pegangan tangga di jalan padjajaran. Bagi masyarakat umum, benda-benda tersebut tentu saja memiliki nilai fungsional sehingga tidak dianggap mengganggu. Sedangkan bagi skater, benda-benda tersebut memiliki nilai tambah sendiri yaitu dapat digunakan sebagai sarana untuk bermain skate. Inilah alasan kami sebenarnya, memberikan kebebasan tafsir bagi semua pihak untuk memaknai benda-benda tersebut. Bagi kami, pemaknaan atas benda-benda tersebut sebagai media bermain skate tentu saja menjadi sah, namun apabila orang lain menafsirkan hanya sebatas tempat sampah dan pegangan tangga itu pun tidak keliru. Dengan demikian proyek tersebut selain memenuhi kebutuhan para skater juga memiliki kegunaan bagi masyarakat luas.
Pada sisi pembiayaan tentu saja kami menggandeng sebuah produk yaitu Unkl347. Kerjasama tersebut terjadi karena kami memiliki pemikiran yang sejalan perihal ruang publik yang skateable. Untuk menghindari kecurigaan, penanda produk Unkl 347 tidak kami masukkan dalam benda-benda publik yang kami ciptakan tersebut. Namun, upaya pencitraan Unkl347 kami ganti melalui pembuatan video dokumentasi proses pembuatan benda-benda publik tersebut dari awal hingga selesai dengan menyelipkan beberapa slot logo ataupun produk Unkl347 dan kemudian menyebarkannya ke ruang publik.
Praktek seperti itulah yang kami anggap sebagai upaya pencitraan yang mampu menimbulkan respect anak muda. Sebagai bukti, pencitraan dan positioning Unkl347 semakin kokoh ditengah mulai menyusutnya usaha-usaha clothingan di Bandung. Dari proyek itu juga kami menemukan bahwa upaya pencitraan yang berhasil menimbulkan respect anak muda karena didalamnya gairah anak muda berhasil kami tangkap. Build This City mampu menyerap gairah anak muda berupa; rebel, jujur, passion, kreatif dan inisiator. Dengan demikian mereka menganggap kami sebagai bagian dari mereka.
Contoh yang kami berikan di atas bisa jadi bukan hal baru dalam dunia pencitraan maupun pemasaran, akan tetapi kami hanya ingin menunjukan bahwa dunia anak muda itu unik dan khas. Meski pola tersebut bisa digunakan oleh siapapun untuk merebut hati anak muda, tapi belum tentu hasilnya bisa sama. Pada titik ini peran penggagas atau insiator menjadi penting untuk menumbuhkan rasa percaya.
Tidak mungkin misalnya, dalam kasus Build This City, orang yang tidak dikenal sama sekali dalam dunia skateboard Bandung akan mendapatkan respect dari anak muda. Yang terjadi malah menumbuhkan curiga bahwa proyek tersebut semata-mata bagian dari iklan produk barang dagangan. Oleh karena itu, peran insiator juga memiliki resiko yang cukup besar. Jika ia gagal menimbulkan kepercayaan anak muda, maka bisa jadi ia dianggap telah menggadaikan idealismenya atau yang terburuk dicap sebagai pengkhianat.
Untuk menghindari itu tentu saja dibutuhkan interaksi. Hubungan yang erat dan intens antara inisiator dengan lingkungan menjadi sangat penting. Dari proses itulah maka akan terjadi pertukaran-pertukaran gagasan yang berujung pada pematangan ide menjadi suatu kreasi yang bermanfaat. Dengan demikian anak-anak muda merasa dilibatkan dalam proses tersebut sehingga seolah tidak ada beda antara inisiator dengan yang lain. Jika perasaan terlibat dan memiliki telah timbul maka kecurigaan akan hilang dan berganti dengan kepercayaan.
Apabila proses pencitraan dan positioning suatu produk/proyek telah menimbulkan respect dari anak muda maka pemasaran atas produk/proyek menjadi mudah. Membeli produk menjadi bagian dari identitas diri dalam lingkungan. Bahasa mudahnya, jika tidak membeli produk tersebut maka dianggap tidak keren.
Jadi, youth marketing itu harus diawali dengan proses pencitraan yang dapat menimbulkan respect. Caranya tidak dengan menggurui akan tetapi melalui silaturahmi. Anak muda harus dilibatkan, diajak berkomunikasi dan kemudian mereka menafsirkan sendiri produk/proyek yang telah dibuat. Sekilas, proses pemaknaan tersebut terlihat bebas dan tidak teratur namun pada dasarnya kita lah yang menentukan batas-batas penafsiran tersebut. Dengan demikian kehendak dari industri dan pasar (anak muda) akan bertemu pada suatu titik.

kata kunci: pemasaran, tren anak muda,riset anak muda, riset pemasaran, strategi pemasaran anak muda, jasa riset, jasa riset pemasaran, biro riset pemasaran, konsultan pemasaran, youth culture asia,youth culture report,youth data,youth indonesia,youth insights,youth marketing indonesia,youth marketing reports,youth research,youthlab, indonesian youth, data anak muda, penelitian tentang anak muda, hasil survei tentang anak muda, jasa penelitian, anak muda indonesia, studi anak muda, agensi pemasaran anak muda, isu anak muda
Inong Boardrider

Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

Komentar