Waktu diberi tawaran untuk jadi contributor writer untuk buku Youthlab Indonesia awalnya excited dan super senang karena dipercaya untuk jadi bagian project seperti ini. Ketika mau mulai menulis, yang ada di otak malah “Mati! Mau nulis apa, ya?” Hahaha. But back to the main topic, I have to write about what I know and what I’m doing now about youth marketing that might inspire the youth generation. Ngomongin marketing alias pemasaran ga bakal jauh dari yang namanya jualan. I was only 18 years old when I bravely start my little percussion group into a serious music-business.
I remember when I was only a little girl; I spent most of my childhood following my dad from one place to another to see him perform with his friends playing music. Aku beruntung karena lahir, tumbuh, dan besar di keluarga yang darah seninya kuat terutama di bidang musik. Ayahku kebetulan drummer dan mendiang pamanku juga pemain perkusi. Dan sampai sekarangpun ayahku masih menjalani bisnis agensi musiknya dan juga menjadi freelance drummer. Dari kecil aku sudah tertarik dengan dunia yang dijalani keluargaku. Bisa dibilang hal yang dilakukan keluargaku tersebut yang menginspirasi apa yang aku lakukan sekarang. They are all doing music for a living, how come it’s not fun? Keliling Indonesia bahkan dunia untuk main musik, and the most fun part of it… They get paid for doing the thing that they love to do!
Aku sendiri sudah belajar piano dari kecil dan tertarik bermain drum ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Tidak pernah terfikir waktu itu untuk serius di bidang ini. Bermain musik hitungannya hanya hobi, waktu itu. Tahun 2005, ketika duduk di bangku SMA, aku membentuk grup perkusi pertamaku, 42 PERCUSSION ENSEMBLE, bersama teman-teman sekolahku yang punya minat yang sama di bidang musik. Dengan instrument seadanya yang kami punya waktu itu, apresiasi yang kami terima sangat positif terutama kepada aku yang menjadi satu-satunya wanita di grup tersebut. Teman-teman aku yang menonton bilang, mereka tidak menyangka kalau kumpulan alat musik yang dasarnya drum saja bisa menjadi kesatuan ensemble yang bagus. Tahun-tahun pertama kami terbentuk, kami masih terbentur dengan jadwal sekolah dan les yang menumpuk, kami hanya berani tampil untuk acara inti sekolah seperti 17 Agustus-an, lomba paskibra, dan acara-acara lain yang intinya hanya diadakan di sekolah. Banyak perwakilan dari sekolah-sekolah lain yang menghubungi kami waktu itu untuk tampil di acara mereka, tapi kami belum berani dan masih merasa minder untuk main di ‘kandang’ orang lain, hehe. Sampai akhirnya kami lulus SMA pada tahun 2008 dan mulai sibuk dengan jadwal kuliah masing-masing. Jadi kami sempat beberapa bulan tidak tampil bermain perkusi.
Waktu itu siang, aku menerima telfon dari salah satu SMA yang mau 42 Percussion Ensemble untuk tampil menjadi pengisi acara di event mereka dan dibayar! Aku tidak langsung menerima tawaran itu karena aku takut teman-temanku yang lain berhalangan. Tidak cuma untuk tanggal tampilnya tapi juga menyusun jadwal untuk latihannya. Kebetulan ada beberapa temanku dari 42 Percussion Ensemble yang kuliah di luar kota. Sampai akhirnya 4 teman aku yang lainnya bisa mengikuti jadwal yang aku susun untuk latihan dan kami terima tawaran kerjanya. Alhamdulillah, kami tampil dengan cukup baik waktu itu. Mulai dari situ panggilan manggung 42 Percussion Ensemble, Alhamdulillah, terus ada. Dan sejak saat itu aku mulai serius untuk ‘membisniskan’ grup perkusiku ini, dan teman-temanku pun setuju.
Yang seru ketika aku menjalani ini adalah ketika salah satu juniorku di SMA menghubungi dan meminta aku untuk mengajar perkusi di sekolah. Pertama kali kumpul dan membicarakan “aturan main” yang aku punya dalam latihan, kita sudah punya masalah. Fakta kalau budget yang dimiliki sangat tipis, akhirnya kita memutuskan mengambil jalan tengah yaitu menggunakan alat bekas sebagai instrument kami. Kita memakai tong air, galon bekas, panci, jemuran, velg bekas, dan lain lain untuk dijadikan alat musik. Terbentuklah side group dari 42 Percussion Ensemble, FORTO STOMP. I am working with more than 30 higshool kids. Jadi selain jadi coach, aku juga menempatkan diri sebagai kakak mereka. Tampil di beberapa acara, apresiasi yang kami terima juga positif. Dan akupun mulai ‘membisniskan’ Forto Stomp juga. Hitunglah Forto Stomp ini adalah adiknya 42 Percussion Ensemble, hehe. Bedanya di Forto Stomp, I only work backstage.
Cerita lain selain jadi talent dan coach, secara tidak langsung aku merangkap pekerjaan menjadi manager dari 42 Percussion Ensemble & Forto Stomp. Dari belajar menyusun kontrak kerja, mengurus keuangan grup, jadwal untuk latihan dan manggung, mencari crew untuk keperluan panggung, dealing with people’s different mind, dan lain lain. Semuanya benar-benar proses dari nol… sampai sekarangpun aku masih belajar and l know I will never stop. Dari ilmu yang seadanya sampai sekarang bisa menambah penghasilan sendiri. Bisa dibilang ini semua proses learning by doing.
Mempromosikan grup kamipun tidak semudah yang orang-orang kira. Most of people around think that I can get a job easily because I have channels from my dad who’s working on that surrounding. While in fact, I realize the market where my dad work in is different with mine. I always find events and promote my group to friends and colleagues that are looking for a different kind of entertainment, which is my percussion group! Sejauh ini kami memasarkan apa yang kami punya ke acara-acara yang peminatnya anak muda. Semuanya berawal dari ide yang keluar ketika ngobrol dan tukar pikiran sama teman-teman yang lain. Dari latihan outdoor supaya dilihat orang, mempromosikan diri lewat facebook & twitter, sampai membuat statement shirt sebagai official merchandise kami yang bertuliskan motto kami dalam bermain perkusi “DRUMMING IS JUST THE BASIC, HAVING FUN IS THE REST!” Rencana lain untuk ke depannya sejauh ini aku ingin membuat official demo baik untuk 42 Percussion Ensemble dan juga Forto Stomp, sekarangpun masih dalam proses mengumpulkan materi supaya matang. Aku juga berencana untuk membangun website yang compact dan tentunya untuk memasarkan ide dan karya kami semuanya di website agar bisa lebih mudah dinikmati dan di akses. Dan tentunya meningkatkan kualitas performa kami di panggung.
Tidak perlu takut untuk mencoba hal baru, justru yang beda dan unik itu biasanya lebih menjual. Apalagi di jaman digital seperti sekarang dimana orang mudah bosan dengan hal yang itu-itu saja, kita yang punya ide beda dan out of the box harus berani mewujudkan apa yang ada di pikiran kita. Generasi muda sekarang, terutama, sangat diuntungkan dengan adanya teknologi yang terus berkembang dan yang pasti membantu untuk menyalurkan dan mengembangkan macam-macam ide yang ada di otaknya. Tetapi dengan kemudahan yang ada tidak berarti harus menggampangkan apa yang akan di lakukan. Rencana jangka pendek dan jangka panjang harus di set dari awal supaya motivasi dan semangat untuk pencapaian rencana tetap ada. And the rest of it is how you play the game with your own way of rules. As the youth generation, you should keep your ideas growing and be open minded to people around you because they might have way much crazier thoughts than yours that you can make it real!
Intinya sebagai generasi muda kita tidak perlu takut mengemukakan ide yang kita punya selama masih dalam konteks positif. Siapa yang tahu itu bisa jadi keuntungan untuk diri sendiri dan orang lain? Siapa juga yang tahu hal seperti ini juga bisa jadi kepuasan diri sendiri dalam segi pencapaian target? Be the great and independent youth generation!

Amalia Masad
I remember when I was only a little girl; I spent most of my childhood following my dad from one place to another to see him perform with his friends playing music. Aku beruntung karena lahir, tumbuh, dan besar di keluarga yang darah seninya kuat terutama di bidang musik. Ayahku kebetulan drummer dan mendiang pamanku juga pemain perkusi. Dan sampai sekarangpun ayahku masih menjalani bisnis agensi musiknya dan juga menjadi freelance drummer. Dari kecil aku sudah tertarik dengan dunia yang dijalani keluargaku. Bisa dibilang hal yang dilakukan keluargaku tersebut yang menginspirasi apa yang aku lakukan sekarang. They are all doing music for a living, how come it’s not fun? Keliling Indonesia bahkan dunia untuk main musik, and the most fun part of it… They get paid for doing the thing that they love to do!
Aku sendiri sudah belajar piano dari kecil dan tertarik bermain drum ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Tidak pernah terfikir waktu itu untuk serius di bidang ini. Bermain musik hitungannya hanya hobi, waktu itu. Tahun 2005, ketika duduk di bangku SMA, aku membentuk grup perkusi pertamaku, 42 PERCUSSION ENSEMBLE, bersama teman-teman sekolahku yang punya minat yang sama di bidang musik. Dengan instrument seadanya yang kami punya waktu itu, apresiasi yang kami terima sangat positif terutama kepada aku yang menjadi satu-satunya wanita di grup tersebut. Teman-teman aku yang menonton bilang, mereka tidak menyangka kalau kumpulan alat musik yang dasarnya drum saja bisa menjadi kesatuan ensemble yang bagus. Tahun-tahun pertama kami terbentuk, kami masih terbentur dengan jadwal sekolah dan les yang menumpuk, kami hanya berani tampil untuk acara inti sekolah seperti 17 Agustus-an, lomba paskibra, dan acara-acara lain yang intinya hanya diadakan di sekolah. Banyak perwakilan dari sekolah-sekolah lain yang menghubungi kami waktu itu untuk tampil di acara mereka, tapi kami belum berani dan masih merasa minder untuk main di ‘kandang’ orang lain, hehe. Sampai akhirnya kami lulus SMA pada tahun 2008 dan mulai sibuk dengan jadwal kuliah masing-masing. Jadi kami sempat beberapa bulan tidak tampil bermain perkusi.
Waktu itu siang, aku menerima telfon dari salah satu SMA yang mau 42 Percussion Ensemble untuk tampil menjadi pengisi acara di event mereka dan dibayar! Aku tidak langsung menerima tawaran itu karena aku takut teman-temanku yang lain berhalangan. Tidak cuma untuk tanggal tampilnya tapi juga menyusun jadwal untuk latihannya. Kebetulan ada beberapa temanku dari 42 Percussion Ensemble yang kuliah di luar kota. Sampai akhirnya 4 teman aku yang lainnya bisa mengikuti jadwal yang aku susun untuk latihan dan kami terima tawaran kerjanya. Alhamdulillah, kami tampil dengan cukup baik waktu itu. Mulai dari situ panggilan manggung 42 Percussion Ensemble, Alhamdulillah, terus ada. Dan sejak saat itu aku mulai serius untuk ‘membisniskan’ grup perkusiku ini, dan teman-temanku pun setuju.
Yang seru ketika aku menjalani ini adalah ketika salah satu juniorku di SMA menghubungi dan meminta aku untuk mengajar perkusi di sekolah. Pertama kali kumpul dan membicarakan “aturan main” yang aku punya dalam latihan, kita sudah punya masalah. Fakta kalau budget yang dimiliki sangat tipis, akhirnya kita memutuskan mengambil jalan tengah yaitu menggunakan alat bekas sebagai instrument kami. Kita memakai tong air, galon bekas, panci, jemuran, velg bekas, dan lain lain untuk dijadikan alat musik. Terbentuklah side group dari 42 Percussion Ensemble, FORTO STOMP. I am working with more than 30 higshool kids. Jadi selain jadi coach, aku juga menempatkan diri sebagai kakak mereka. Tampil di beberapa acara, apresiasi yang kami terima juga positif. Dan akupun mulai ‘membisniskan’ Forto Stomp juga. Hitunglah Forto Stomp ini adalah adiknya 42 Percussion Ensemble, hehe. Bedanya di Forto Stomp, I only work backstage.
Cerita lain selain jadi talent dan coach, secara tidak langsung aku merangkap pekerjaan menjadi manager dari 42 Percussion Ensemble & Forto Stomp. Dari belajar menyusun kontrak kerja, mengurus keuangan grup, jadwal untuk latihan dan manggung, mencari crew untuk keperluan panggung, dealing with people’s different mind, dan lain lain. Semuanya benar-benar proses dari nol… sampai sekarangpun aku masih belajar and l know I will never stop. Dari ilmu yang seadanya sampai sekarang bisa menambah penghasilan sendiri. Bisa dibilang ini semua proses learning by doing.
Mempromosikan grup kamipun tidak semudah yang orang-orang kira. Most of people around think that I can get a job easily because I have channels from my dad who’s working on that surrounding. While in fact, I realize the market where my dad work in is different with mine. I always find events and promote my group to friends and colleagues that are looking for a different kind of entertainment, which is my percussion group! Sejauh ini kami memasarkan apa yang kami punya ke acara-acara yang peminatnya anak muda. Semuanya berawal dari ide yang keluar ketika ngobrol dan tukar pikiran sama teman-teman yang lain. Dari latihan outdoor supaya dilihat orang, mempromosikan diri lewat facebook & twitter, sampai membuat statement shirt sebagai official merchandise kami yang bertuliskan motto kami dalam bermain perkusi “DRUMMING IS JUST THE BASIC, HAVING FUN IS THE REST!” Rencana lain untuk ke depannya sejauh ini aku ingin membuat official demo baik untuk 42 Percussion Ensemble dan juga Forto Stomp, sekarangpun masih dalam proses mengumpulkan materi supaya matang. Aku juga berencana untuk membangun website yang compact dan tentunya untuk memasarkan ide dan karya kami semuanya di website agar bisa lebih mudah dinikmati dan di akses. Dan tentunya meningkatkan kualitas performa kami di panggung.
Tidak perlu takut untuk mencoba hal baru, justru yang beda dan unik itu biasanya lebih menjual. Apalagi di jaman digital seperti sekarang dimana orang mudah bosan dengan hal yang itu-itu saja, kita yang punya ide beda dan out of the box harus berani mewujudkan apa yang ada di pikiran kita. Generasi muda sekarang, terutama, sangat diuntungkan dengan adanya teknologi yang terus berkembang dan yang pasti membantu untuk menyalurkan dan mengembangkan macam-macam ide yang ada di otaknya. Tetapi dengan kemudahan yang ada tidak berarti harus menggampangkan apa yang akan di lakukan. Rencana jangka pendek dan jangka panjang harus di set dari awal supaya motivasi dan semangat untuk pencapaian rencana tetap ada. And the rest of it is how you play the game with your own way of rules. As the youth generation, you should keep your ideas growing and be open minded to people around you because they might have way much crazier thoughts than yours that you can make it real!
Intinya sebagai generasi muda kita tidak perlu takut mengemukakan ide yang kita punya selama masih dalam konteks positif. Siapa yang tahu itu bisa jadi keuntungan untuk diri sendiri dan orang lain? Siapa juga yang tahu hal seperti ini juga bisa jadi kepuasan diri sendiri dalam segi pencapaian target? Be the great and independent youth generation!

Amalia Masad
Komentar
Posting Komentar